pendidikan
adalah salah satu peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia di Era
globalisasi saat ini. Hal ini dikarenakan, pendidikan merupakan akar dari
peradaban sebuah bangsa. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus
dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan kehidupan. Namun, yang
terlihat saat ini, sistem pendidikan di Indonesia ternyata belum mampu
mengatasi masalah tersebut. Pendidikan dinilai masih berpihak pada kaum
kapitalis dan golongan ekonomi menengah ke atas. Sebenarnya, dalam memperoleh
pendidikan, ada banyak cara yang dapat ditempuh. Pendidikan tidak hanya
terbatas pada sekolah dan ruang kelas. Di luar sekolah, pendidikan dapat dilakukan secara luas dan maksimal. Salah
satu diantaranya yaitu melalui sebuah perpustakaan. Berbagai sumber informasi
dapat diperoleh di dalam Perpustakaan, lain daripada itu masih banyak manfaat yang dapat kita peroleh melalui
perpustakaan.
Secara
konvensional, perpustakaan yaitu kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku
dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai
(Syihabudin Qalyubi dkk, 2007). Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai
sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan
lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan
pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ). Ketika kita mendengar
kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku yang
tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar,
tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap, karena
setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai
sebuah perpustakaan. Hal ini dikarenakan toko buku bersifat wiralaba
(komersial), berbeda dengan perpustakaan yang hanya menjual jasa tanpa bersifat
komersial. Selain itu masih banyak lagi bayangan miring tentang perpustakaaan.
Pustakawan yang identik dengan cemberut, kaca mata tebal, dan galak. Gedung
perustakaan yang jauh dari keramaian dan bahkan kumuh. Hal ini semua membuat
pemustaka enggan untuk datang ke perpustakaan. Tampilan monoton dari
perpustakaan juga menjadikan perpustakaan semakin jarang dikunjungi oleh
pemustaka. Selain dari internal perpustakaan, minat baca masyarakat Indonesia
dapat dikatakan masih rendah. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia
dibuktikan dengan rendahnya kunjungan masyarakat, pelajar ataupun mahasiswa
untuk datang ke perpustakaan. Upaya meningkatkan minat masyarakat untuk
mengunjungi perpustakaan, perlu memerlukan langkah nyata agar memunculkan
motivasi dalam diri setiap masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan.
Rendahnya
minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan salah satunya disebabkan oleh
bentuk perpustakaan yang monoton dan kurang inovatif, karena memang fakta
membuktikan bahwa sebagian besar perpustakaan di Indonesia dibuat dengan desain
resmi dan identik dengan keseriusan, suasana tenang, dan membosankan. Hal
inilah yang menyebabkan masyarakat memiliki minat baca yang rendah dan malas
untuk mendatangi perpustakaan. Sehingga untuk menarik masyarakat agar tidak ‘alergi’ dengan perpustakaan, diperlukan
format perpustakaan yang sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri,
tentunya sesuai dengan jenis perpustakaan yang ingin dibangun. Dari hal yang
sederhana, misalnya jenis koleksi, perubahan konsep, serta jaringan
perpustakaan yang sangat berbeda dengan jaman dahulu. Selain itu, Perpusakaan
yang fleksibel, santai dan unik adalah inovasi masa depan dari perpustakaan.
Memang perpustakaan bukanlah lembaga profit yang mencari keuntungan. Namun,
Semua itu dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pemustaka untuk berkunjung
ke perpustakan.
Dengan perkembangan zaman yang semakin maju,
perpustakaan juga selayaknya berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Penerapan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah satu dari sekian
banyak cara untuk merubah wajah perpustakaan di masa depan. Paradigma ini tidak
bisa dibendung lagi keberadaannya, mau atau tidak mau harus dilaksanakan.
Inovasi masa depan perpustakan selanjutnya adalah perpustakaan yang berbasis
teknologi (perpustakaan digital). Perpustakaan digital
adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi
yang mendukung akses obyek informasi melalui perangkat digital. Layanan ini
akan mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi seperti
dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat dan
akurat. Perpustakaan digital diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi data
ilmiah dan teknologi dalam bentuk digital secara terpadu dan lebih dinamis. Kecanggihan TIK membuka peluang bagi setiap
unsur masyarakat untuk dapat berhubungan langsung dengan sumber informasi
melalui fasilitas yang dimiliki perpustakaan. Tersedianya sumber informasi yang
tersedia dalam berbagai format dan keterbatasan dana menyebabkan perpustakaan
tidak dapat memberikan kepuasan bagi penggunannya.
Revolusi format perpustakaan merupakan
tindakan penting untuk dilakukan, agar minat baca masyarakat Indonesia dapat
meningkat. Selain itu, memang saatnya wajah perpustakaan Indonesia berubah
dengan wajah yang lebih elegan dan menyenangkan. Saatnya image
perpustakaan yang identik dengan membosankan berubah menjadi tempat yang
menyenangkan dan dirindukan banyak orang. Perpustakaan yang di lengkapi
dengan Kafe, TV, kipas angin, toilet,
taman dan yang tak kalah menarik adalah alunan musik klasik untuk menciptakan
suasana yang nyaman dan damai. Hal ini akan semakin meningkatkan animo dan
semangat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku yang ada
di perpustakaan tersebut.
Dari segi
letak, perpustakaan haruslah mudah diakses dari segala kalangan, arah dan
jangkauan. Desain perpustakaan yang maju adalah gedung yang mewah dengan
ruangan ber-AC dan gedungnya bertingkat. Fasilitas internet adalah fasilitas
yang bersifat wajib. Pengunjung perpustakaan tidak hanya membutuhkan informasi
berwujud buku saja (manual), namun
pemenuhan informasi saat ini harus dapat diperoleh dengan mudah dan cepat yaitu
melalui internet. Menjadikan masyarakat cerdas adalah tujuan perpustakaaan.
Tapi bukan berarti yang cerdas akan menjadi tambah cerdas dan yang bodoh akan
tetap bodoh. Di sinilah letak perpustakaan mesti juga perlu di kaji ulang.
Perpustakaan bukanlah mercu suar yang mesti kelihatan dari jauh, tapi lebih
pada seberapa besar kemanfaatannya bagi masyarakat. Proyek perpustakaan
keliling juga merupakan sebuah solusi.
Perpustakaan
sebagai penyedia informasi sudah saatnya sebagai institusi terdepan dalam
perubahan masyarakat. Perpustakaan merupakan parameter kemajuan sebuah bangsa.
Masyarakat dengan gaya hidup modern tentunya memerlukan asupan informasi dari
lembaga informasi yang modern. Perubahan perpustakaan untuk masa depan hanya
akan terwujud jika paradigma kinerja perpustakaan (pustakawan) dan wajah
(tampilan) berinringan dengan perkembangan sosio-kognisi masyarakat dan
teknologi informasi.
No comments:
Post a Comment