Buku “Perpustakaan untuk Rakyat”, adalah buku yang memberikan nuansa
tentang apa itu perpustakaan. Nuansa yang tidak hanya terkait dengan cara
menata perpustakaan, klasifikasi ataupun katalogisasi. Beliau berpendat bahwa
buku ini sangat bagus, karena berbeda dengan buku lain. Buku tersebut dibuat
seperti novel, adanya dialog dibeberapa bagian, tetapi isi yang dibicarakan
tetap nyaman dan saling berkaitan. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari
buku tersebut, bukan hanya belajar ilmu perpustakaan (mengolah perpustakaan), tetapi
lebih kepada memahami kebutuhan masyarakat. Kadang-kadang sebagian orang yang
bukan pustakawan agak susah untuk mengubah paradigma bahwa pustakawan itu hanya
mengurusi buku dan sangat susah sekali mengatakan perpustakaan itu harus
dinamis.
Selain menyinggung tantang buku pak Blasius, Bu Afi juga menyinggung
tentang perpustakaan dan TBM ( Taman Baca Masyarakat) yaitu mengenai Pengembangan
masyarakat. Namun beliau lebih menekankan pada taman bacaan masyarakat atau
yang sering disebut TBM. Beliau memberi contoh TBM yang ada di Sleman yaitu
TBM cakruk Pintar. TBM tersebut sudah
maju, minat baca masyarakatnya juga sangat antusias. Sebenarnya perpustakaan
dan TBM mempunyai ruh yang sama yaitu mengembangkan minat baca. Akan tetapi di
yogyakarta masih banyak problematika tentang TBM . Dari data yang didapat, dari
240 TBM yang ada di yogyakarta , hampir 30% sudah “koma” atau tidak mati dan
tidak hidup.
Di tahun 2012 pak Blasius menggandeng Ratih untuk berkolaborasi dalam
penulisan buku yang berjudul “Perpustakaan untuk Rakyat”. Beliau mengutarakan
berbagai masalah yang dihadapi saat penulisan buku tersebut. Selain dari
penyesuaian pola pikir dua orang, juga masalah persepsi dua generasi yang mempunyai selisih
umur. Namun hal ini dapat di tepis, sehingga lahirlah buku ini. Buku
Perpustakaan untuk rakyat tersebut mengadaptasi dar buku Sri Sultan HB IX yang
berjudul Tahta untuk Rakyat. Kita perlu berfikir secara sareh, yaitu cerdas dan
hening. Perpustakaan adalah jalan sunyi dan berdaki, penuh penantian dan
harapan.
Menurut pak Blasius pustakawan seharusnya yang berjiwa kepustakawanan,
harus memeliki keprofesionalan dalam pelayanan, kepustakawanan adalah panggilan
hidup, Kepustakawanan adalah spirit of life. Kepustakawanan lebih dekat dengan
kemampuan memahami yang mau, dari pada yang mampu.
Pemateri : 1. Blasius Sudarsono, Mls
2. Afia Rosdiana
3. Ratih Rahmawati